Dalam dunia kejahatan siber, salah satu kelompok yang akhir-akhir ini menjadi berita utama adalah Laskar89. Kelompok peretas ini, yang asal usulnya masih misterius, bertanggung jawab atas sejumlah serangan siber tingkat tinggi dalam beberapa tahun terakhir. Meskipun ada upaya dari lembaga penegak hukum untuk membawa mereka ke pengadilan, Laskar89 berhasil menghindari penangkapan dan melanjutkan aktivitas kriminal mereka.
Lantas, siapa sebenarnya Laskar89 itu dan bagaimana cara kerjanya? Laskar89 merupakan kelompok hacking yang pertama kali muncul pada awal tahun 2010-an. Mereka dikenal dengan serangan dunia maya yang canggih, yang sering kali menargetkan lembaga pemerintah, lembaga keuangan, dan perusahaan besar. Salah satu serangan mereka yang paling terkenal adalah terhadap kantor pajak pemerintah Indonesia, di mana mereka mencuri informasi sensitif dan membocorkannya secara online.
Salah satu alasan mengapa Laskar89 mampu menghindari pihak berwenang adalah penggunaan alat enkripsi dan anonimitas canggih. Mereka diketahui menggunakan teknik seperti jaringan pribadi virtual (VPN) dan aplikasi pesan terenkripsi untuk berkomunikasi dan mengoordinasikan serangan mereka. Hal ini menyulitkan lembaga penegak hukum untuk melacak dan mengumpulkan bukti yang memberatkan mereka.
Faktor lain yang membantu Laskar89 menghindari penangkapan adalah struktur mereka yang terdesentralisasi. Berbeda dengan organisasi kriminal tradisional, Laskar89 tidak memiliki pimpinan atau hierarki pusat. Sebaliknya, mereka beroperasi sebagai kumpulan peretas yang berkumpul untuk melakukan serangan tertentu dan kemudian bubar. Hal ini mempersulit pihak berwenang untuk mengidentifikasi dan menangkap anggota kelompok tersebut.
Meskipun sifatnya sulit dipahami, lembaga penegak hukum di seluruh dunia meningkatkan upaya mereka untuk membawa Laskar89 ke pengadilan. Dalam beberapa tahun terakhir, telah terjadi sejumlah penangkapan besar-besaran terhadap tersangka anggota kelompok tersebut. Namun, kelompok ini terus beroperasi dan melakukan serangan siber, yang menunjukkan bahwa mereka masih merupakan ancaman besar terhadap keamanan siber.
Ketika pertarungan antara peretas dan pihak berwenang terus meningkat, jelas bahwa kelompok seperti Laskar89 menimbulkan tantangan besar bagi lembaga penegak hukum. Penggunaan teknologi canggih dan struktur desentralisasi membuat mereka sulit dilacak dan dituntut. Namun, dengan meningkatnya kerja sama dan koordinasi antar lembaga penegak hukum internasional, terdapat harapan bahwa kelompok seperti Laskar89 dapat diadili dan dimintai pertanggungjawaban atas kegiatan kriminal mereka.
